Menu

Menganyam Akar Rumput untuk OMS yang Tahan Banting di Weaving Resilience

26 Mei, 2023

Weaving Resilience Initiative Meeting mempertemukan lebih dari 90 partisipan dan 20 organisasi di belahan bumi selatan (global south) pada tanggal 28 Februari 2023 hingga 2 Maret 2023.

Dari Indonesia sendiri, terdapat 3 perwakilan organisasi dengan masing-masing latar belakang tematiknya. PLUS melalui Re.Search ikut hadir bersama dengan Yayasan Kehati melalui Ananta Fund dan Roemah Inspirit melalui REACH (Communications Resource Hub for Advancing Social Change).

Sebagai salah satu perwakilan, PLUS merupakan organisasi yang fokus pada institutional resilience atau daya tahan institusi di Indonesia dan secara spesifik melalui Re.Search bergerak dalam meningkatkan ketangguhan finansial OMS di Indonesia.

Pada artikel kali ini, kami ingin menceritakan secara singkat apa saja yang kami peroleh dan pelajari selama 3 hari berlangsungnya pertemuan inisiatif ini. Mari simak!

Hari Pertama: Perkenalan Berbagai Model Implementasi Antar Sesama Organisasi

Pertemuan bagi representasi OMS yang hadir dibuka dengan berkenalan dan berjejaring melalui ‘river of life’. Ini merupakan visualisasi yang menggambarkan perjalanan OMS dengan alur sungai dari hulu, tengah, hingga ke hilir.

Dalam menceritakan perjalanan PLUS, kami memilih untuk menitikberatkan perjalanan program Re.Search sejak 2020. Seperti aliran air hulu ke hilir sungai yang mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan alam. Perkenalan kami dari PLUS melalui Re.Search bermula dari masa awal pandemi pada 2020 yang membuat kami bergerak secara daring (online), lalu mulai berkembang menjadi hybrid—menyesuaikan dengan kondisi pandemi yang sudah mulai membaik pada 2022. Hingga di tahun 2023  ini kami sudah memulai kembali memberikan layanan luring (offline) pada mitra Re.Search.

Lalu, sesi berlanjut dengan berbagi kisah beragam model implementasi organisasi yang berjalan dan memetakan secara tematis dalam tiga kategori bentuk layanan yang diberikan oleh organisasi yang hadir. Ketiga tema besar ini adalah: wellness and safety (kesehatan dan keamanan), strategic relevance (relevansi strategi), dan institutional resilience (ketangguhan institusi). Kami menceritakan model implementasi organisasi yang diterapkan PLUS sebagai bentuk layanan institutional resilience dengan mengembangkan ekosistem pembelajaran, memberikan berbagai jenis pelatihan, dan menekankan budaya berkolaborasi dengan organisasi lainnya yang berdampak pada keberlangsungan OMS di Indonesia.

Hal menarik yang kami peroleh dari agenda berkenalan dan berjejaring ini adalah aliansi organisasi yang berada di wilayah pegunungan Andes (Andean Region) di Amerika Selatan. Aliansi ini bergerak untuk memberikan layanan penguatan kapasitas OMS di wilayah tersebut. Implementasi aliansi ini serupa dengan aliansi kolaborasi Weaving Resilience di Indonesia yang baru saja launching pada tanggal 9 Mei kemarin yang kami namakan dengan Jalin Tenggara.

Sesi hari pertama berakhir dengan World Café conversations di mana seluruh perwakilan organisasi berkumpul untuk berdiskusi dan merefleksikan 6 tahapan implementasi model dan tantangan yang dihadapi. Keenam tahapan implementasi model organisasi ini adalah sebagai berikut: (1) mendirikan Hub dan menyesuaikan situasi internal, (2) mengatur dan memilih organisasi, (3) metodologi penguatan dan pemberdayaan, (4) membangun dan mengimplementasikan strategi komunikasi, (5) follow up, monitoring, dan evaluasi, (6) memastikan hub dapat berjalan secara berkelanjutan.

Hari Kedua: Berjejaring dan Membangun Hubungan Erat Antar Komunitas

Setelah pengenalan dan pemetaan tiap organisasi yang hadir, agenda pada hari kedua melibatkan tiga tema besar dalam layanan organisasi dengan berdiskusi mengenai tantangan, metodologi, dan upaya pemberian solusi.

PLUS melalui Re.Search berada dalam kelompok sub-tematik financial resilience dan dalam kelompok ini kami berbagi tantangan dan pandangan yang serupa. Salah satunya, bagaimana OMS masih belum memahami dan memiliki kapasitas yang rendah mengenai strategi finansial, sumber pendanaan utama OMS yang masih berpusat pada donor, fokus menjalankan program dengan orientasi dampak nirlaba dan cenderung menjauhi upaya yang bisa menghasilkan penghasilan, serta perubahan situasi ekonomi yang rumit dan berimbas pada dampak negatif pemasukan secara jangka pendek.

Kemudian sesi berlanjut dengan upaya menyusun strategi solusi terhadap tantangan yang dihadapi OMS melalui berdirinya hub sebagai berikut: advokasi pentingnya memiliki dan memahami strategi finansial di setiap OMS, diversifikasi pendanaan dan pemutaran dana sebagai prioritas utama OMS, mengizinkan dan mendukung OMS untuk membangun jejaring melalui stakeholders, membantu OMS mengenai keterampilan teknis finansial, advokasi pendanaan tidak terbatas pada para donor, serta mengubah pola pikir OMS yang nirlaba menjadi OMS berorientasi memperoleh profit untuk keberlanjutan organisasi. Peran utama hub dalam memberikan solusi pada OMS dari hasil diskusi ini adalah scaling up the impact, yaitu upaya menskalakan dampak OMS.

Lalu kegiatan berlanjut pada pengenalan peran Ford Foundation dalam inisiasi Weaving Resilience dan menerapkan prinsip Anti-patriarchy, Anti-Colonialist, Anti-Racists, Anti-Ableist (anti patriarki, anti kolonialisme, anti rasis, anti abilisme) dalam aktivitas organisasi. Prinsip ini menekankan implementasi menentang pada segala bentuk praktik penindasan terhadap kelompok rentan sesuai dengan konsep yang disebut di atas dalam aktivitas organisasi.

Pandangan yang kami peroleh mengenai prinsip di atas adalah internalisasi  prinsip dalam nilai-nilai kepemimpinan di organisasi. Serta, kontekstualisasi prinsip menyesuaikan dengan budaya praktik kerja organisasi. Bagaimana pemahaman prinsip ini tidak sebatas konsep tapi menerapkan prinsip ini menjadi praktik kerja. Seperti prinsip anti abilisme (anti-ableist) yang sudah PLUS dan Re.Search terapkan, dengan memastikan seluruh layanan tersedia bagi siapapun yang memerlukan. Tanpa terkecuali, tanpa ada yang tertinggal.

Hari Ketiga: Bayangan Bersama terhadap Konstelasi Weaving Resilience

Agenda pertemuan pada hari terakhir Weaving Resilience Initiative Meeting adalah diskusi bersama, yaitu mengenai bagaimana visi dan penerapan rencana dari pemetaan Weaving Resilience ke depan.

Untuk membentuk visi di masa mendatang, perlu roadmap atau peta perjalanan yang secara runut menjelaskan peran dan tanggung jawab sesuai dengan skala waktu dan jadwal yang ditentukan. Beberapa pandangan kami mengenai ini adalah membentuk komunitas pembelajar, mengembangkan online platform atau wadah daring dengan peta interaktif terkait hubs dan masing-masing yang menjadi titik fokusnya, serta mengatur pertemuan rutin berdasarkan wilayah.Kami berharap ke depan agar terdapat agenda pertemuan rutin antar hub berdasarkan wilayah untuk saling berkolaborasi. Harapan kami, ini dapat menjadi kegiatan signifikan yang mampu menyebar dan membentuk aliansi regional baru—dari aliansi Enlaza Sur di Amerika Selatan, aliansi Jalin Tenggara di Indonesia, hingga aliansi-aliansi baru di seluruh belahan bumi selatan.

Share this page

facebook twitter linkedin whatsapp messenger telegram gmail outlook email

cross